Pada tanggal 25–31 Agustus 2025, sebanyak kurang lebih 20 orang pengajar Mandarin dari berbagai kampus dan sekolah menengah atas di Indonesia mengikuti kegiatan Tianjin Summer Camp for Mandarin Teacher 2025. Program ini diselenggarakan di Tianjin Foreign Studies University, Tiongkok, dengan tujuan memperkuat kapasitas para pengajar bahasa Mandarin serta memperdalam pemahaman mereka tentang budaya Tiongkok secara langsung.
Para peserta datang dari institusi ternama, di antaranya Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Gunadarma, serta lembaga pendidikan menengah seperti Madrasah Aliyah Al Irtiqo’ yang bernaung di bawah Yayasan Ariosan. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa minat terhadap pengembangan bahasa Mandarin di Indonesia semakin meluas, baik di tingkat perguruan tinggi maupun sekolah menengah.
Selama tujuh hari penuh, para peserta mengikuti serangkaian acara yang dirancang khusus untuk memberikan pengalaman mendalam terkait bahasa dan budaya Tiongkok. Salah satu agenda utama adalah pembelajaran kaligrafi Tiongkok (书法, Shūfǎ). Kegiatan ini tidak hanya melatih keterampilan seni tulis tangan tradisional, tetapi juga memperkenalkan filosofi di balik setiap goresan kuas yang menjadi bagian penting dalam sejarah dan identitas budaya Tiongkok.
Selain itu, peserta juga mendapat kesempatan untuk mempelajari seni penyajian teh tradisional Tiongkok (茶艺, Cháyì). Dalam sesi ini, mereka tidak hanya diajarkan teknik menyeduh teh yang benar, tetapi juga memahami makna filosofis yang terkandung dalam tradisi minum teh sebagai simbol kesopanan, keramahan, dan keharmonisan sosial. Aktivitas ini memberikan pengalaman sensorik yang kaya, mulai dari aroma teh, cara menuang, hingga etika dalam menyajikan kepada tamu.
Tentu saja, inti dari program ini adalah peningkatan keterampilan bahasa. Peserta mengikuti kelas intensif bahasa Mandarin yang difokuskan pada metode pengajaran modern, strategi komunikasi, serta praktik berbicara. Dengan suasana imersif di Tianjin, para pengajar memiliki kesempatan berinteraksi langsung dengan penutur asli, sehingga dapat memperbaiki pelafalan, menambah kosakata, serta memahami konteks budaya yang melekat dalam percakapan sehari-hari.
Tidak hanya kegiatan di dalam kelas, para peserta juga diajak untuk melakukan kunjungan budaya ke berbagai situs bersejarah di sekitar Tianjin. Dari arsitektur klasik hingga kehidupan modern perkotaan, mereka dapat melihat langsung dinamika perkembangan Tiongkok sebagai negara dengan warisan tradisi yang kaya sekaligus kemajuan pesat di era modern.
Keterlibatan Yayasan Ariosan bersama Madrasah Aliyah Al Irtiqo’ dalam program ini merupakan langkah nyata dalam upaya melebarkan sayap penggalian ilmu hingga ke negeri Tiongkok. Melalui partisipasi aktif dalam kegiatan internasional semacam ini, Yayasan Ariosan berkomitmen untuk memberikan peluang bagi para pendidik maupun peserta didik agar dapat menimba pengalaman langsung dari sumbernya, sehingga mutu pendidikan di lingkungan yayasan terus berkembang.
Sebagai bagian penting dari rangkaian kegiatan, Yayasan Ariosan dan Tianjin Foreign Studies University juga menyepakati sebuah Memorandum of Understanding (MoU). Kesepakatan ini berfokus pada kerja sama dalam bidang pendidikan dan pertukaran budaya, mencakup pertukaran tenaga pengajar, kesempatan studi, serta kolaborasi dalam pengembangan kurikulum. MoU ini diharapkan dapat memperkuat jejaring akademik internasional dan membuka jalan bagi kerja sama yang lebih luas di masa mendatang.
Program Tianjin Summer Camp for Mandarin Teacher 2025 bukan sekadar pelatihan bahasa, melainkan juga jembatan persahabatan antara Indonesia dan Tiongkok. Melalui interaksi antarbudaya, para pengajar Indonesia tidak hanya meningkatkan kompetensi profesional, tetapi juga membawa pulang pengalaman berharga yang bisa mereka bagikan kepada mahasiswa maupun siswa di tanah air.
Dengan semangat kolaborasi dan saling pengertian, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi tonggak penting dalam mempererat hubungan akademik antara lembaga pendidikan di Indonesia dan Tiongkok, sekaligus menumbuhkan generasi muda yang lebih terbuka terhadap keberagaman budaya global. (nurhikmah)

