Belgrade, Oktober 2024. Udara sejuk Eropa Timur menyambutku begitu turun dari pesawat. Selama empat hari ke depan, kota bersejarah di Serbia ini akan menjadi saksi perjalananku sebagai seorang hijab traveller. Ada rasa penasaran yang besar, bercampur sedikit kekhawatiran, namun dengan nama Allah, kulangkahkan kaki.
Hari Pertama: Keagungan Saint Sava, Sejarah Yugoslavia, dan Kehangatan Awal
Tujuan awalku adalah Gereja Saint Sava, salah satu gereja Kristen Ortodoks terbesar di dunia. Begitu tiba di hadapannya, aku terdiam. Masya Allah, betapa megah dan agungnya bangunan ini. Kubah putihnya menjulang gagah ke langit biru Oktober. Sebagai seorang muslimah, aku mengagumi keindahan arsitektur dan kesungguhan umat lain dalam mengekspresikan keyakinan mereka. Berdiri di pelatarannya, aku merasakan getaran spiritualitas yang kuat, sebuah pengingat bahwa manusia memiliki fitrah untuk mencari dan mengagungkan Sang Pencipta, walau dalam cara yang berbeda. Ini adalah pelajaran tentang toleransi dan menghargai tempat ibadah umat lain.
Setelahnya, aku melanjutkan ke Museum Yugoslavia. Berjalan di antara artefak dan foto-foto yang mengisahkan era Tito dan negara Yugoslavia yang kini terpecah, hatiku terenyuh. Sejarah selalu memberi pelajaran berharga tentang persatuan, perbedaan, dan bagaimana manusia berinteraksi. Aku merenung, betapa pentingnya menjaga ukhuwah, bahkan dalam skala bangsa. Meski tak banyak menemukan jejak Islam secara eksplisit di sana, aku tahu Muslim adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah Balkan. Di luar museum, seorang nenek penjual bunga tersenyum ramah saat aku tak sengaja menyenggol keranjangnya. “Izvinite (maaf),” ucapku. Ia mengangguk dengan senyum tulus. Alhamdulillah, kesan pertama yang menenangkan.
Hari Kedua: Silaturahmi dengan Diaspora dan Tantangan Makanan Halal
Hari ini aku punya janji istimewa: bertemu Mbak Nety, diaspora Indonesia di Serbia yang kukenal melalui akun inspiratifnya, @letsgoserbia. Pertemuan kami di sebuah kafe terasa begitu hangat. Mbak Nety, dengan keramahan khas Indonesia, banyak bercerita tentang kehidupan di Belgrade, suka dukanya, dan tentu saja, tips berharga menemukan makanan halal.
“Mencari makanan halal memang butuh usaha ekstra di sini, Mbak,” ujarnya sambil tersenyum. Dan benar saja, siang itu, aku merasakan sendiri tantangannya. Restoran dengan label halal jelas sangat minim. Aku harus lebih teliti membaca komposisi, bertanya pada pelayan (yang kadang juga bingung), atau memilih opsi vegetarian dan ikan. Subhanallah, ini menjadi pengingat betapa nikmatnya kemudahan mendapatkan makanan halal di negeri sendiri. Namun, kesulitan ini juga mengajarkan kesabaran dan kreativitas.
Hari Ketiga: Kedamaian di Masjid Bajrakli dan Kebaikan yang Universal
Puncak spiritual perjalananku adalah mengunjungi Masjid Bajrakli, satu-satunya masjid yang berfungsi di pusat kota Belgrade. Bangunan bersejarah dari era Ottoman ini berdiri anggun di tengah hiruk pikuk kota. Begitu melangkah masuk, kedamaian langsung menyergap. Bertemu beberapa jamaah lokal, bertukar salam, merasakan getaran ukhuwah islamiyah lintas negara, hatiku menghangat. Shalat di masjid ini terasa begitu khusyuk, sebuah oase di tengah perjalanan.
Saat hendak kembali, aku sedikit kebingungan mencari arah. Seorang pria muda Serbia yang sedang berjalan bersama anjingnya melihatku tampak ragu. “Can I help you?” tanyanya sopan. Aku menjelaskan tujuanku, dan dengan ramah ia menunjukkan jalan yang benar, bahkan menambahkan beberapa tips transportasi. Ia sama sekali tidak canggung melihat jilbabku. Masya Allah, keramahan bisa datang dari siapa saja, melintasi batas agama dan budaya. Orang Serbia yang kutemui menunjukkan sisi humanis yang menyentuh.
Hari Keempat: Pamit Belgrade, Bawa Pulang Hikmah
Empat hari berlalu begitu cepat. Saat bersiap meninggalkan Belgrade, hatiku dipenuhi rasa syukur. Perjalanan ini bukan hanya tentang melihat tempat baru, tapi tentang merasakan pengalaman, memetik pelajaran.
Hikmah Perjalanan:
Belgrade mengajarkanku banyak hal. Pertama, keindahan dan ekspresi spiritualitas bisa ditemukan dalam berbagai bentuk, dan menghargai keyakinan orang lain adalah bagian dari akhlak seorang muslim. Kedua, Islam adalah rahmat bagi semesta, dan jejaknya bisa ditemukan di mana saja, bahkan di tempat yang tak terduga seperti Masjid Bajrakli yang berdiri kokoh. Ketiga, tantangan seperti mencari makanan halal adalah ujian kesabaran dan kreativitas, sekaligus pengingat untuk selalu bersyukur atas kemudahan yang kita miliki. Keempat, keramahan adalah bahasa universal. Prasangka seringkali runtuh ketika kita berani membuka diri dan berinteraksi. Orang Serbia yang kutemui membuktikan bahwa kebaikan hati tidak terikat pada identitas tertentu.
Sebagai seorang muslimah, jilbabku adalah identitas, dan di Belgrade, ia menjadi jembatan untuk interaksi yang penuh hormat. Perjalanan ini menguatkan keyakinanku bahwa di setiap perjalanan ada tanda-tanda kebesaran Allah SWT, yang mengajarkan kita tentang keberagaman, ketangguhan iman, dan indahnya kemanusiaan. Alhamdulillah ‘ala kulli haal.


