TAFSIR SURAT AL-KAUTSAR bagian terakhir

INNASYAA NI AKA HUWALABTAR
Sesungguhnya pembencimulah yang abtar
Nabi Muhammad diejek oleh kaum musyrikin sebagai seorang yang terputus keturunannya.
Allah menampik ejekan itu melalui kedua ayat yang lalu dan menggembirakan Nabi
Muhammad dengan anugerah yang banyak, antara lain keturunan yang banyak serta
memerintahkan beliau mensyukuri Allah dengan perintah shalat, berdoa, dan menyembelih
kurban. Ayat di atas mengembalikan ejekan kepada pengucapnya dengan menyatakan:
Sesungguhnya pembencimulah yang abtar yakni terputus keturunannya dan luput dari
kebajikan.
Kata syani’aka terambil dari kata syana’ an yang berarti “kebencian”. Kata ini digunakan al-
Qur’an untuk menunjukkan adanya kebencian yang bukan pada tempatnya dan yang lahir
karena iri hati. Apapun yang diucapkan kaum musyrikin terhadap Nabi, baik bahwa beliau
terputus keturunannya maupun terputus dari segala macam kebajikan, namun yang jelas
bahwa kata syani’aka menginformasikan bahwa ucapan tersebut lahir dari sikap iri hati dan
kebencian kepada Nabi Muhammad.
Kata al-abtar terambil dari kata batara yang berarti “terputus sebelum sempurna”. Kalau kata
ini disandarkan kepada hewan, maka ia berarti putus ekornya. Dan bila kepada seorang lelaki,
biasanya diartikan dengan yang terputus keturunannya. Bisa juga diartikan yang terputus dari
kebajikan. Nabi bersabda: “Setiap pekerjaan yang penting dan tidak dimulai dengan
Bismillah, maka dia menjadi Abtar (terputus dari kebajikan dan keberkahan)”
Jika kita menerima riwayat yang menyatakan bahwa Sabab Nuzul-nya ayat ini adalah ejekan
kaum musyrikin terhadap Nabi sebagai terputus keturunannya, maka makna kata abtar adalah
yang terputus keturunannya. Sedang jika riwayat tersebut ditolak, maka kata abtar berarti
“terputus dari kebajikan”. Redaksi al-abtar yang bersifat umum dapat menampung kedua
pendapat itu.
Siapa yang membenci Nabi Muhammad pastilah abtar, walau dia mempunyai anak keturunan
yang banyak. Al-Walid Ibn al-Mughirah yang membenci Nabi mempunyai sebelas orang anak.
Tetapi keturunannya tidak melanjutkan misi dan pandangan orang tuanya sehingga dengan
demikian ia dapat dinamai terputus dari keturunannya dan terputus pula dari kebajikan. Khalid
Ibn al-Walid adalah seorang putra al-Walid Ibn al-Mughirah, yang merupakan pahlawan
pembela Islam.
Kalau kita memahami al-kautsar dalam arti sungai atau telaga di surga, maka yang
membencinya pasti tidak akan meminum dari sungai atau telaga itu. Sebaliknya yang
mencintai beliau akan meneguk dari sungai atau telaga itu dan selanjutnya ia tidak akan
merasa dahaga selama-lamanya.
Al-Maraghi berpendapat bahwa kebencian yang dimaksud oleh ayat ini adalah kebencian yang
tertuju kepada Nabi Muhammad dalam arti kebencian kepada ajaran-ajarannya. Bukan
kebencian kepada pribadinya. Pribadi beliau amat mempesona. Akhlaknya mengagumkan
kawan dan lawan. Yang mereka tentang adalah ajarannya. Nabi Muhammad sebagai pribadi
adalah seorang yang tenang dan tentram jiwanya, gagah berani serta mulia, sangat sederhana,
tidak suka kepada kemewahan, atau berlebih-lebihan.
Kalau pun analisa di atas tidak diterima, maka paling tidak dapat disimpulkan bahwa amat
sukar memisahkan kedudukan pribadi agung itu sebagai Nabi dan sebagai manusia biasa. Atas
dasar itu, kita dapat berkata bahwa apapun motif kebencian terhadap beliau, kesemuanya
termasuk dalam ancaman ayat ini bahkan apapun gangguan kepada beliau dapat
mengakibatkan murka Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × five =